Ya, quote di bagian paling awal itu memang
terasa cukup miris karena kini semakin mudah untuk tidak hanya menemukan tapi
juga merasakan hal tersebut ada serta terjadi di kehidupan sehari-hari. Tidak
heran jika kemudian Yeom Mi-jung seperti merasa “tidak peduli” dengan pendapat
orang lain terhadap dirinya, karena dirinya hanya ingin menjalani hidupnya
dengan cara yang ia rasa paling nyaman. She doesn't even care about where
she'll go after she dies. She wants to see heaven while she's alive. Writer
Park Hae-young dengan cerdik menggunakan itu sebagai pintu masuk bagi karakter
untuk melangkah maju dalam proses memerdekakan diri yang sedang mereka coba
lakukan itu, termasuk mengembangkan masalah di tempat kerja serta tentu saja
kisah cinta antar karakter.


Mari bahas Ki-jung terlebih dahulu,
bagaimana kisahnya dengan Cho Tae-hun jadi bukti bahwa kalimat “like attracts
like” itu benar adanya. Kepolosan Ki-jung memang menjadi salah satu kelemahan
yang ia miliki sehingga sulit untuk menemukan pria yang “jatuh hati” padanya,
tapi bukan berarti apa yang kita anggap jadi kekurangan tadi fungsinya hanya
menjadi tembok penghalang saja. Karena tentu saja ada pria yang justru tertarik
dengan wanita seperti Ki-jung, menemukan kecocokan dengan sifat dan kepribadian
miliknya. Dan Tae-hun ada di posisi tersebut. Tidak ada upaya eksplorasi yang
terlalu dalam sejauh ini, dengan terus dibalut situasi awkward Park Hae-young
membiarkan kisah cinta itu mengalir normal, jadi penggambaran bahwa there's no
reason to love. You just love or hate someone because you want to.


Yang lantas menyambung ke masalah Chang-hee
dengan rekan kerjanya. Tapi point yang coba didorong tidak berhenti di sana,
bukan pada proses menemukan alasan mengapa sangat membenci Jeong A-reum. Lewat
Chang-hee justru penonton melihat bagaimana manusia sebenarnya dapat dengan
mudah menjauh dari perasaan benci penuh amarah when they repented their
arrogance and decided to take a leap of faith, and think they did well. Sedikit
lucu memang untuk kasus Chang-hee, berubah menjadi sangat tenang dan menikmati
hidup ketika dipinjami oleh Mr. Goo mobil Rolls Royce Ghost miliknya. Ya,
mobil, benda yang selama ini sangat ingin dimiliki oleh Chang-hee membuatnya
jadi semakin mudah untuk “mengendalikan” emosi, learned something and to focus
on his own performance.


Tidak hanya mobil itu saja memang, tapi
hasil akhir di mana dia dan A-reum sama-sama tidak promosi juga membuat
Chang-hee menjadi semakin percaya diri saat menghadapi masalah, to face the
mountains one by one instead of avoiding them. Seperti Ki-jung yang dapat
belajar sesuatu dari gentleman Tae-hun meski awalnya ia ditolak, Chang-hee also
learned something about dealing with people. Sama seperti Yeom Mi-jung dan
pacar barunya itu, Goo Ja-gyeong yang akhirnya menyadari bahwa mereka bahagia
ketika sedang bersama. Di satu momen Mi-jung bahkan berkata bahwa “suddenly, I
feel lovable” seolah-olah kehidupannya selama ini yang feels like living is so
painful itu telah sukses menjalani therapy, dan sembuh without ending up killing
herself.


Itu yang membuat ‘My Liberation Notes’
menarik sejak awal, bagaimana cerita tidak hanya sekedar kisah cinta dan impian
untuk sukses saja namun juga memerdekakan diri dari kehidupan yang selama ini
terpaksa karakter jalani. There was only one thing that made them curious,
"What am I?" yang lantas menempatkan mereka dalam proses kontemplasi
yang lembut namun tajam. Empat karakter utama, dan tentunya beberapa karakter
pendukung lainnya menyadari bahwa selama ini mereka seperti orang-orangan
sawah, they don't really know what they are, they're just acting as if they do.
Tekanan, frustasi, itu membuat mereka lemah, and the weaker you are, the more
evil you get. And evil people have a pitiful side to them yang harus mereka
atasi, Kim Seok-yoon dan Park Hae-young tempatkan karakter bermain dengan sepi.


Yang kemudian berubah penuh warna ketika
mereka mulai menemukan apa yang selama ini mereka butuhkan. Ya, bukan apa yang
mereka inginkan melainkan apa yang mereka butuhkan. Chang-hee sangat sederhana,
ia berubah sejak dipinjamkan oleh Mr. Goo mobil, sedangkan Ki-jung setelah
menemukan pria yang tertarik pada dirinya. Mi-jung dan Mr. Goo pun demikian,
mereka memang tidak banyak bermain dengan emosi secara frontal tapi dalam diam
mereka berhasil membuat satu sama lain merasa nyaman dan saling membutuhkan. I
think humans are only sane when they're lonely, dan ketika mereka sudah
menetapkan apa yang ingin diraih pilihan terbaik adalah go full dengan sedikit
teknik tarik ulur. Saya setuju dengan opini dari Ki-jung tentang when a man and
a woman like each other, shouldn't you give each other the fullest? Tapi
sedikit tarik dan ulur jelas akan memberi bumbu sensasi.


Isu tersebut yang membalut manis empat
episode terbaru ini, terutama ketika tiga hal penting itu muncul, yakni I will
not pretend to be happy, I will not pretend to be unhappy, and I will be
honest. Tiga hal itu seperti jab yang kuat bagi penonton, karena manusia modern
sekarang ini faktanya akan sangat mudah untuk berteman dengan konflik yang
memaksa mereka untuk melakukan kebalikan dari tiga hal tadi. Seperti masalah
antara Mi-jung dengan boss-nya yang berengsek itu, sikapnya yang hanya bisa
pasrah justru pengejawantahan yang berseberangan dengan tiga poin penting tadi.
Kini ia punya peluang lewat design contest itu, dan saya menantikan seperti apa
pukulan telak yang akan Mi-jung berikan, meskipun sebenarnya ia bisa saja
meminta bantuan Mr. Goo yang ternyata memiliki konflik rumit di masa lalunya
itu. Ia telah kembali ke kehidupan lamanya, apakah Mr. Goo berarti gagal?


Screenwriter Park Hae-young dengan sangat
cerdik menempatkan kalimat di mana “a good drama is one where the main
character tries hard to achieve something but can't do it.” Itu yang menjadi
pondasi bagi babak akhir ‘My Liberation Notes’ yang secara manis telah
membentuk perjuangan karakternya tiba di titik di mana mereka menemukan
secercah harapan. Pertanyaannya kini adalaha dengan rintangan yang telah
terlihat itu bagaimana sikap dari tiap karakter? Mereka memutuskan berlayar ke
lautan, tentu gelombangnya akan semakin besar. Apakah mereka tetap akan setia
pada hidup “aman” tapi menyiksa itu sembari berkata “This is just how life is”
saja? Sejauh mana perjuangan memerdekakan diri itu akan berlayar dan hasil
akhir seperti apa yang telah menanti tiap karakter? One thing for sure,
everything good in this world could be yours.
“The family we'll have one day, will it be the same as the family we came from?”
ReplyDelete