Ya,
begitulah cinta, ia bisa tiba dengan berbagai cara lalu tumbuh menjadi sesuatu
yang indah tanpa diduga. Ada banyak cara memang bagi cinta untuk bekerja dan di
sini kita lihat sebuah hubungan yang berawal dari pertemuan unik itu berkembang
menjadi perasaan suka, lalu cinta. Tarik ulur terjadi dan caranya pun tidak
istimewa, cenderung klise malah, tapi apa pentingnya hal tersebut jika di tengah
ada perasaan di mana bunga perlahan-lahan mekar semakin indah. Banyak momen di
dua episode terbaru ini yang berhasil membuat saya tersenyum karena di sini
karakter yang telah mulai kelihatan koneksinya satu sama lain itu mulai masuk
ke babak selanjutnya di mana mereka mulai bermain dengan hati dan emosi, ada
yang tampil menggunakan rayuan-rayuan yang tickling, ada yang masih malu-malu.


Salah
satu alasan mengapa sejak awal ‘Twenty-Five Twenty-One’ sudah meraih atensi
adalah karena ini berisikan perjuangan para anak muda untuk meraih mimpi mereka
dan harus berhadapan dengan berbagai rintangan, dan ketika kita berbicara
tentang gejolak masa muda maka cinta menjadi bagian penting di dalamnya. Tapi
saya suka ini tidak melulu tentang cinta, memang jika berbicara kuantitas
maupun porsi maka dua episode terbaru ini lebih condong mengembangkan elemen
romance karakter tapi di sisi lain terdapat beberapa isu dan pesan yang punya
power cukup oke untuk menjadi semacam pep talk kepada penontonnya. Sama seperti
kondisi yang dialami Na Hee-do dan Baek Yi-jin, di sini Screenwriter Kwon
Do-eun bersama Sutradara Jung Ji-hyun fokus membawa tragedi yang dialami
karakter naik ke level berikutnya.


Tapi
bukan untuk mengeksploitasi hal tersebut dengan menggunakan dramatisasi yang
berlebihan melainkan menggunakan tragedi tadi untuk membuat para karakter
mempelajari masalah mereka dan menikmati hidup mereka. Yang jika dibuat lebih
sempit lagi adalah mencoba menikmati proses yang merupakan bagian tidak boleh
absen dalam perjalanan hidup seseorang dalam meraih impian mereka. Ya, mungkin
penjelasan saya ini terasa terlalu deep untuk beberapa orang tapi justru di
sanalah point menarik series ini sejauh ini, yakni mendorong karakter menjadi
subjek yang mampu membuat para penonton berinvestasi emosi pada perjuangan yang
sedang ia lakukan. Krisis moneter sendiri sejak awal merupakan setting yang
sangat cantik, itu menjadi lapisan terbesar pada pondasi tragedi di dalam
cerita.


Tragedi
yang kemudian berkembang menjadi sebuah coming-of-age dengan balutan komedi dan
juga emosi. Saya belum menemukan momen di mana emosi hadir dan memberikan
pukulan yang terasa super telak, tapi cukup banyak dari mereka yang sejauh ini
levelnya sudah tidak jauh dari titik tersebut. Hal tersebut memang dampak dari
penggabungan drama yang mengusung tragedi dan mimpi dengan elemen lain yakni
komedi, yang di sini kuantitasnya juga tidak bisa dikatakan sedikit sedangkan
kualitasnya konsisten terasa baik. Ambil contoh Na Hee-do, ia adalah tipe
karakter yang jika tidak ditangani dengan tepat maka sifatnya yang lincah itu
sangat mudah untuk terasa menjengkelkan, sedangkan Baek Yi-jin yang cenderung
tenang itu juga punya potensi besar untuk kehilangan atensi dan terasa perlahan
terasa hambar.


Di
sana letak kepiawaian Jung Ji-hyun dalam membentuk cerita yang punya runtutan
eksposisi sederhana tapi sangat efektif, terutama secara perlahan menampilkan
hal lain yang menurut saya justru merupakan spotlight terbesar dari serial ini,
yakni arti dari judulnya yang seperti saya tulis di Part 1 memiliki spiritual
meaning perjuangan dengan impian besar ketika karakter kemudian saling bantu
satu sama lain, become each other's angels. Kini cerita sudah tiba di titik itu
dan terlepas dari betapa saya menikmati banter antar karakter dalam urusan
percintaan klasik dan klise itu, tapi di sisi lain saya juga berharap agar
romance tidak berlari terlalu laju. Yoo-rim dan Ji-woong mungkin akan mildang,
dan semoga Hee-do dan Yi-jin masih butuh waktu untuk menghapus sikap
“malu-tapi-mau” mereka satu sama lain.


Karena
banyak hal manis dan lucu yang muncul dari formula tersebut dan sejauh ini
menjadi separuh nafas dari cerita. Babak di mana rintangan dan perjuangan itu
akan jadi semakin rumit dan berat tentu saja akan hadir, dan jika kamu amati
penonton sebenarnya sudah diberi tahu secara jelas bagaimana kisah cinta itu
akan berakhir di present day. Mungkin terdapat opsi lain bagi dua karakter
utama di present day tapi bagi saya itu hanya akan jadi pelengkap dari kisah
utama, layaknya Min-chae yang berkutat dengan balet. Dan karena itu pulalah
trick yang diterapkan berhasil mengikat saya untuk merasa ingin menikmati
proses berisikan perjuangan itu secara perlahan, ikut dalam irama yang telah
ditetapkan sejak awal yakni santai tapi serius di mana karakter dan konflik
diberikan ruang yang luas untuk berlari dan bernafas.


Last
but not least, about fencing, tentang Hee-do dan Yoo-rim. Percikan yang terjadi
di antara mereka tidak hanya berfungsi mendorong maju narasi tapi juga memberi
variasi warna yang menarik bagi cerita. Kini sosok misterius di balik chating
lewat komputer itu telah terjawab, Ji-woong juga menjadi jembatan yang sangat
baik sama seperti yang dilakukan oleh Seung-wan terhadap Yi-jin, menarik untuk
dinantikan bagaimana cara Screenwriter dan juga Sutradara memanfaatkan
rivalitas di antara dua karakter utama mereka, mengingat ini baru empat episode
sedangkan yang akan hadir berikutnya adalah seleksi nasional yang mungkin akan
minim kejutan. Apakah Hee-do dan Yoo-rim dalam waktu dekat dapat menjadi teman dengan chit-chat
menyenangkan seperti yang mereka lakukan di depan layar komputer? Apakah puncak itu akan berisikan pertarungan mereka berdua?
“Those losses were blocks to build yourself stairs leading up. Now you’ve got the highest staircase. Take your time to climb it and take whatever you want.”
ReplyDelete