Siapa yang tidak merasa
kesal ketika ia dikhianati, apalagi ketika dikhianati oleh teman sendiri, tapi
apakah usaha balas dendam yang bersifat “menghancurkan” merupakan sesuatu yang
normal? Mungkin, karena di dalam sebuah kompetisi selalu ada dua kelompok
dengan cara bermain yang berbeda: fair
play dan foul play, mereka yang mencoba kembali menang dengan cara meningkatkan kualitas yang mereka miliki, adapula mereka mencoba
menang dengan cara “menjatuhkan” lawannya. Menggunakan musik dan kisah cinta
segitiga hal tadi merupakan basic dari film ini, ‘Love, Lies (Hae-eohwa)’, a quite pretty but not so "sticky" love story.
Jung
So-yul (Han Hyo-joo), murid gwonbeon dan anak perempuan
seorang gisaeng ternama, memiliki
bakat menyanyi dan kecantikan alami yang membuatnya menjadi pusat perhatian.
So-yul berteman dengan Seo Yeon-hee (Chun
Woo-hee) dan mereka berjanji untuk saling menjaga martabat dalam persaingan
mereka sebagai gisaeng. Suatu ketika So-yul yang menjalin hubungan asmara
dengan penulis lagu bernama Kim Yoon-woo
(Yoo Yeon-seok) mendapati Yoon-woo menulis lagu buat Yeon-hee. Yoon-woo
menyukai Yeon-hee dan memintanya keluar dari gwonbeon dan beralih menjadi
penyanyi pop. So-yul yang merasa dikhianati menyusun rencana balas dendam,
salah satunya untuk menghancurkan kehidupan Yeon-hee.
Menggabungkan drama
dengan isu utama balas dendam dengan elemen musik, 'Love, Lies' memberikan sebuah perjalan selama dua jam yang cukup
menghibur. Setting waktu dari period drama ini berada ketika Korea masih menjadi
satu kesatuan dan berada dibawa pendudukan Jepang, menampilkan beberapa isu
modernisasi dengan menggunakan Korean
version of geisha sebagai karakter utamanya. Itu jadi fokus yang begitu
menarik di sini, sutradara Park Heung-sik
(Memories of the Sword) dan tim
penulis naskah mampu menampilkan dua sisi yang berlawanan dari para gisaeng, di
satu sisi mereka dituntut untuk tampil elegan karena menghibur kaum kelas atas
tapi di sisi lain mereka merupakan para wanita biasa yang seperti tidak ingin
selalu terikat status sosial dengan kesan kaum terpelajar. Menariknya isu
pengkhianatan digunakan sebagai jalur utama, memuncaknya rasa cemburu hingga
lepas kontrol.
'Love,
Lies' merupakan sebuah kisah cinta segitiga klasik,
berisikan pengkhianatan, rasa cemburu, dendam, dan penyesalan. Kita dibawa
untuk melihat bagaimana ketika dua wanita yang awalnya berteman akrab kemudian
terperangkap di dalam sebuah kompetisi. Secara kualitas vokal So-yul berada di
belakang Yeon-hee yang langsung bertemu dengan stardom di industri musik pop,
fakta tersebut di set dengan baik tapi masalahnya kita dibuat ragu apakah usaha
balas dendam yang So-yul lakukan layak untuk kita dukung, metode yang ia pakai
terasa cukup berlebihan. Park Heung-sik cukup oke memutar masalah utama di
antara kisah segitiga ini bersama tampilan visual yang manis, menciptakan
kontrak dengan situasi di cerita yang terasa ugly berisikan jealousy. Tapi
cerita film ini terasa begitu kuat hanya di sepertiga awal durasi, setelah itu storyline justru melemah, pergerakan
plot cukup oke tapi terasa terlalu tenang untuk sebuah film berisikan aksi balas dendam.
Penonton tahu duduk
masalah cerita tapi mereka tidak mendapatkan shift cerita yang mampu
mempertahankan pesona dari masalah tersebut. Ketika daya tarik cerita semakin
terasa tipis daya tarik cerita dan karakter juga terasa semakin kurang kuat,
rasa simpati memang ada tapi narasi yang klise itu perlahan terasa cukup
dingin. Ini mengejutkan sebenarnya karena cerita sendiri berisikan materi yang
dapat menghasilkan berbagai ledakan, beberapa karakter merupakan orang-orang
pretty “dirty”, tapi yang ditampilkan
terlalu bergantung pada rasa cemburu dari wanita. Mungkin memang hal tersebut
dipengaruhi budaya di era tersebut, dan kita juga harus ingat janji antara
Yeon-hee dan So-yul di awal tadi, tapi cara Park Heung-sik membuat ini
mayoritas terasa tenang membuat 'Love,
Lies' tidak berhasil meraih potensinya yang paling maksimal, sebuah
emotional drama penuh ledakan emosi. Yang 'Love,
Lies' tampilkan: kisah cinta segitiga universal dengan emosi yang
universal.
Bukan berarti buruk
tapi ‘Love, Lies’ seperti sengaja di
set untuk tetap terasa ringan dan tidak terasa rumit. Hasilnya meskipun
menggunakan isu balas dendam sebagai jualan utamanya namun cerita ‘Love, Lies’ tidak punya impresi
berbahaya yang mengesankan. Hal tersebut semakin sedikit suram karena editing kualitasnya juga kurang oke,
membuat alur cerita di beberapa bagian terasa seperti ditambal sulam secara
kasar. Terasa cukup aneh memang mengapa hal tersebut dapat mencuri perhatian
dengan begitu kuat, apakah akibat saya salah menaruh ekspektasi sejak karena di
luar kekurangan tadi elemen lain seperti production
values dan kinerja akting terasa manis. Saya sangat suka kostum di film
ini, mereka menggunakan hanbok tapi kesan yang muncul terasa trendy dan modern, tampilan visual juga terasa oke.
Elemen musik film ini
terasa manis, performance yang
ditampilkan oke dan selalu mampu mengikat perhatian. Dengan porsi yang cukup
oke elemen musik juga sering membantu kinerja akting para pemeran. So-yul merupakan
sosok yang menyedihkan dan itu berhasil ditampilkan dengan baik oleh Han Hyo-joo, ketika tampil naif terasa
pas tapi ketika dituntut bergelut dengan emosi dia terasa kuat, memberikan grip
yang oke di sektor drama ia juga terasa memikat ketika bernyanyi. Hal serupa yang dilakukan oleh Chun Woo-hee, terasa
meyakinkan dalam menampilkan bahagia dan duka dan ketika bernyanyi terasa
cukup oke. Sedangkan Yoo Yeon-seok
cukup oke tampil sebagai sumber rasa kesal dan sakit hati yang dialami So-yul, tapi
selain itu pengaruhnya terasa minim, tidak banyak hal yang menarik dari Kim
Yoon-woo, ia muncul lalu tenggelam, lalu muncul.
Tampil begitu
meyakinkan di awal sayangnya ‘Love, Lies
(Haeuhhwa)’ terasa sedikit longgar ketika telah hampir menginjak titik
tengah durasinya. Tidak buruk memang namun dengan potensi yang terasa oke di
bagian awal film ini berakhir sebagai sebuah good enough drama
romance, terasa ringan dan tampak menjaga agar dapat tampil universal
sehingga tidak menghasilkan kedalaman yang menawan terutama pada isu balas
dendam penuh emosi dan cinta itu. Untung saja di sisi lain ‘Love, Lies’ berhasil menampilkan berbagai nilai positif seperti good visual, good production design, good
costume design, good enough music, dan good acting.
Seandainya ini memiliki kedalaman dan "passion" yang lebih kuat dan
lebih menarik di pusat utama cerita yang ia punya mungkin hasil akhir yang ia
berikan akan terasa jauh lebih baik. Segmented.
0 komentar :
Post a Comment